About Me
- Bintan Aditya
Jika Aku Bukanlah Aku
Jika aku bukanlah aku
Takkan pernah kau sambut air mata
Takkan pernah kau ucap perih
Takkan pernah kau kalap dalam sunyimu
Jika aku bukanlah aku
Takkan pernah kau gurat senyum
Takkan pernah kau terhuyung di nostalgia
Takkan pernah kau tatap canda
Jika aku bukanlah aku
Takkan pernah ada jejak untukmu
Takkan pernah terhampar kisah
Takkan pernah tersuguh hangat cinta
Small Steps
Hanya langkah kecil
Yang terajut dan tersanding
Inginku karam tanpa letih
Tak dapat ku berlari
Namun tak kuasa tuk padam
Hati berperangai pilu
Adakalanya kata terbuai lamunan
Langkah tecampak helaan lampau
Satu yang ku semai
Enggan pudar meski meranggas
Aku berpacu pada pelik
Sanggupkah kau dalam penantianmu
Menggenggamku,membelai kalut
Dan membalutnya dengan suka
Selagi penantianmu bukan angan petang?
Hanya di tapak kecil
Ku tulis ulang kisah
Ku susuri lubang yang tergurat
Hanya untukmu..ah tidak
Untuk kita
Jangan Pergi
Ah..malam ini datang lagi
Beranda menjadi saksi kini
Ketika genggam lemah tuk menampik
Peraman kenangan akan tabirmu
Pada sauh yang hanyut dalam kalut
Aku disini,dan kau entah dimana
Kutanya pada malam
Geming pekiknya yang tergapai
Terlalu senyap tuk berbagi resah
Namun di sudut meja ada gambarmu
Terurai rindu bagai kata membisu
Menembus memori bahkan maya kisahnya
Begitu indahnya
Begitu hangatnya
Apa kau ingat senandung itu?
Ketika embun bukan lagi kabut
Dan waktu bukan lagi guratan pena
Jangan tinggalkan aku
Meski sauhmu tak lagi lebat
Jangan tinggalkan kita
Sebelum terucapkan selamat tinggal
Sebelum dekapku menghempas kaitnya
Sebelum hati ini membawamu
Pantomim
Menghitamkan rintik dibalik jendela
Bertaut klausa yang enggan terucap
Menyahut kesan geming mendura
Memberi dilema walau tak terbesit
Aku menantimu
Bersauh untuk lambaian lelapku
Menyapa bingkaian lentera redup
Legam bersimbah lara perlahan
Kau lantunkan simfoni itu
Saat karamku pada sudut gulita
Tanpa sempat raga terjaga
Mendekap bayang yang menyapa
Aku diam,kau bersandar
Pada labuhan sesak yang kau cipta
Bersimbah sekat seribu bahasa
Menggetar sesal rimbun meruah
Aku menginginkanmu dengan sempurna
Dalam mesra merdu terangkai
Dan kau hanya memberi pantomim
Atas pejam tak bersua
Dulu,Sekarang
Hanya helaian lampau tercampak
Bahkan tak sanggup tuk terbesit
Nostalgia yang lirih terlelap
Berkabung merisaukan renungku
Yang kalap terlindas kenangan
Aku masih enggan melangkah
Enggan menduakan sisa nafasmu
Dan kau telah berpagar punggung
Pada langit yang kau damba
Terlalu gegap bertahta dalam sunyi
Namun ku tak ingin berlari
Karena berpijak pun ku tak kuasa
Inginku
Tak ingin meninggalkanmu
Harapku
Kembalilah pada dekapku
Bahkan tak sanggup tuk terbesit
Nostalgia yang lirih terlelap
Berkabung merisaukan renungku
Yang kalap terlindas kenangan
Aku masih enggan melangkah
Enggan menduakan sisa nafasmu
Dan kau telah berpagar punggung
Pada langit yang kau damba
Terlalu gegap bertahta dalam sunyi
Namun ku tak ingin berlari
Karena berpijak pun ku tak kuasa
Inginku
Tak ingin meninggalkanmu
Harapku
Kembalilah pada dekapku
Yoru no Tenshi (Malaikat Malam)
Duhai malaikat malamku
Sudikah kau terdiam untukku
Untuk menjadi pengusap muram
Untuk menghapus langit usang ini
Duhai malaikat malamku....
Kemarin aku melihat senyum dia
Hati ini hanya tertegun
Bahkan angan tak henti bergumam
Mungkinkah kudekap anugerah itu?
Atau akan menjadi bias harum?
Hari ini ku dengar rintihan lirihnya itu
Namun jemariku lunglai untuk merangkulnya
Tak berdaya menjadi sangga
Dia yang karam dalam lara
Aku yang meronta dalam asa
Entah apa yang esok kulihat
Dalam temaram aku bersimpuh
Kunanti gema kisahnya
Walau raga kaku membisu
Terpagar waktu yang meluruh
Wahai malaikat malamku
Akankah esok kau terjaga lagi
Memberi benderang untukku bernaung
Sekedar 'tuk memecah heningku
Meski kau pun hanya bergeming
Sudikah kau terdiam untukku
Untuk menjadi pengusap muram
Untuk menghapus langit usang ini
Duhai malaikat malamku....
Kemarin aku melihat senyum dia
Hati ini hanya tertegun
Bahkan angan tak henti bergumam
Mungkinkah kudekap anugerah itu?
Atau akan menjadi bias harum?
Hari ini ku dengar rintihan lirihnya itu
Namun jemariku lunglai untuk merangkulnya
Tak berdaya menjadi sangga
Dia yang karam dalam lara
Aku yang meronta dalam asa
Entah apa yang esok kulihat
Dalam temaram aku bersimpuh
Kunanti gema kisahnya
Walau raga kaku membisu
Terpagar waktu yang meluruh
Wahai malaikat malamku
Akankah esok kau terjaga lagi
Memberi benderang untukku bernaung
Sekedar 'tuk memecah heningku
Meski kau pun hanya bergeming
Subscribe to:
Comments (Atom)

