About Me
- Bintan Aditya
Di mana?
Hujan telah berlalu namun gelap terus berwujud
Aku masih tertahan dibalik punggungmu
Menanti sebesit tolehanmu dalam hitam
Walau aku tahu
Pandanganmu akan menjebakku dalam duka
Jangan.. jangan diam
Beribu kata telah kusemaikan
Namun tetap hatimu tandus
Tak acuh pada langkahku yang kian sembab
Di mana cinta ini bisa diletakkan?
Sedangkan tiada pernah cawan kosong kau tinggalkan
Di mana cinta ini bisa kusisipkan?
Sedangkan tiada celah kau guratkan
Di mana tempatmu pulang kala kau terjatuh?
Sedangkan hanya aku rumah untuk kembali
Mozaik
Selalu ada cerita dalam petikan detik
Seolah berlayar tak kunjung menepi
Terukir dalam bait-bait nafas
Menjadi perkamen yang takkan meretas
Waktu kian terkikis dan memudar
Runtutan kisah bukan lagi lebah dan bunga
Tak semanis di awal,tak seindah semula
Kini berkabut cita dan derita
Jalan kita serpihan kaca
Pecah entah dimana
Terpisah entah mengapa
Luluh lantak menjadi fragmen tak berukir
Kita bisa menjadi mozaik
Rangkai kembali kepingan kenangan itu
Meski tajam menusuk dan berselimut pedih
Yakinlah indah takkan pernah sembunyi
Tak Ada "Kita"
Bodohnya hati ini
Berpangku pada hati yang berpaut hitam
Mengharap tinta pada putih ini memudar
Langkahku kelu,hatiku pilu
Masih di jejak yang sama
Di kenangan yang membuncah
Disini kau tinggalkan benci
Menggenggam dalam jemari
Terlampau sulit untuk kucuci
Biarkan meluruh dalam embun pagi
Haruskah hati ini kutitipkan lagi padamu
Meski hanya tinggal sepucuk?
Takkan pernah hidup
Kian merapuh terbias rindu
Karena pada akhirnya
aku dan kamu,takkan pernah ada kita
Berpangku pada hati yang berpaut hitam
Mengharap tinta pada putih ini memudar
Langkahku kelu,hatiku pilu
Masih di jejak yang sama
Di kenangan yang membuncah
Disini kau tinggalkan benci
Menggenggam dalam jemari
Terlampau sulit untuk kucuci
Biarkan meluruh dalam embun pagi
Haruskah hati ini kutitipkan lagi padamu
Meski hanya tinggal sepucuk?
Takkan pernah hidup
Kian merapuh terbias rindu
Karena pada akhirnya
aku dan kamu,takkan pernah ada kita
Sayap Lunglai
Aku tak pernah mengerti mengapa
Kembali terjaga dalam sunyi lelap
Melangkah entah kemana dan dimana
Sadarku ingin berlari..berlari..dan berlari
Beratap rembulan penuh sindiran
Aku ingat saat terlelap
Nyaman tak terbaurkan
Sebening embun yang menyahut
Bahkan untuk sekedar menyadari itu nyata
Benar..aku takut mencintaimu
Terhenyak aku dihadapan kelabu
Mencoba melangkah namun itu semu
Bagai menari beralas pilu
Inilah akhirnya
Kita bersanding dibawah gemintang yang sama
Dalam angan dan ingin yang beradu
Terjerat dibalik punggungmu yang kian menjauh
Akulah sayap lunglai terhunus sembilu
Subscribe to:
Comments (Atom)